Jumat, 27 Mei 2011

TERAPI URIN

A. Sejarah Terapi Urine
Terapi urin sudah ada sejak zaman purba. Jutaan orang terperanjat ketika mengetahui  sejumlah penelitian  diterbitkan, dan semua menyetujui kehebatan terapi urin. Sejumlah pembuktian menegaskan bahwa terapi urin memiliki kemujaraban yang ajaib.[1]
Di India terapi urin sudah dikenal sejak 5000 tahun silam. Hal ini berdasarkan tulisan dalam kitab Damar Tantra, bab Shiwambu Kalpavidhi, yang artinya mempraktekkan minum air seni untuk meremajakan jaringan tubuh. Karena kitab ini ditulis Dewa Shiwa maka orang India menyebutnya Shiwambu (bu=urine). Hingga sekarang orang India meminum shiwambu setiap pagi untuk menjaga kesehatan. Bahkan, Mantan Perdana Menteri India, Morarjibhai Desai (1977-1979), menjadi pelopor terapi urin. Ia melakukan terapi ini. Ia melakukan terapi ini untuk mengobati penyakit sembelit yang dideritanya sejak usia muda.
Terapi urin juga dilakukan orang Eropa sejak 4000 tahun yang lalu. Plinius Secundus, pengarang Romawi kuno untuk pengobatan luka akibat gigitan anjing atau ular, infeksi mata, dan lika bakar. Bahkan, kaisar Romawi melakukan pemungutan pajak kepada orang binatu yang menggunakan urin untuk mencuci. Bangsa Eskimo sejak dulu hingga sekarang memanfaatkan urin untuk keramas. Menurut mereka urin akan membuat rambut menjadi lebih bercahaya dan indah. Air seni juga sering digunakan oleh para prajurit ketika sedang berperang. Ketika kehabisan air minum dan obat, mereka memilih urin sebagai alternatif.[2]
Dalam literatur Cina kuno Shang Han Lung ( treatise on febrile disease ) yang ditulis oleh Chang Yi pada Dinasti han ( 1700 th lalu ) terdapat catatan terapi urin, yang konon berkhasiat untuk melancarkan peredaran darah, penenang, dan menghilangkan panas dalam, penyakit mata serta luka pukul.[3]
Di Jawa, bahkan ada kebiasaan mengencingi anak-anak yang tengah sakit panas. Menurut Gunawan Santoso, urinopati yang tinggal di Tanah Kusir, Jakarta Selatan, dulu di Semarang, Jawa Tengah, kaum ibu meneteskan urin pada anaknya yang mengalami sakit mata. Hal demikian pun pernah dilakukan Gunawan.
Hasil penelitian dan pengalaman para peneliti pun telah diungkapkan dalam berbagai konferensi, seperti First and Second All India Conferences on Therapy Urine tahun 1993 dan 1997 di India, maupun pada First and Second World Conferences on Therapy Urine 1996 di India dan di Jerman 1999. Hasilnya, para peneliti sepakat terapi air seni sangat bermanfaat untuk menyembuhkan berbagai penyakit, antara lain asma, batu empedu, hepatitis, hipertensi, kanker prostat, infeksi saluran cerna, infeksi saluran kemih, infeksi saluran napas, kanker, kencing batu, kencing manis, narkoba, jantung koroner, penyakit kelamin, rematik, sirosis, wasir. Kata Dr. Iwan, sekarang sudah ada 20 macam obat paten yang berasal dari ekstrak air seni yang dijual dengan resep dokter.[4]

B.  Susunan Sistem Urine
·         Ginjal
Ginjal suatu kelenjer yang terletak di bagian belakang  dari kavuni abdominalis dibelakang peritoneum pada kedua sisi vertebra lumbalis III melekat langsung pada dinding belakang abdomen.
Fungsi ginjal, terdiri dari:
1.      Memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksin atau racun.
2.      Mempertahankan susan keseimbangan cairan.
3.      Mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh.
4.      Mempertahankan keseimbangan garam dan zat-zat lain dalam tubuh.
5.      Mengeluarkan sisa-sisa metabolism hasil akhir dari protein ureum, kreatinin, dan amoniak.
·         Ureter
Terdiri dari 2 saluran pippa masing-masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria) panjangnya ±25-30 cm, dengan penampang ±0,5 cm. Ureter  sebagian terletak dalam rongga pelvis.
·         Vesika urinaria
Kandung kemih dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet, terletak dibelakang simfisis pubis di dalam rongga panggul.
Bentuk kandung kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikalis medius.
·         Uretra
Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfumgsi menyalurkan air kemih keluar.
Pada laki-laki uretra berjalan berkelok-kelok melalui tengah-tengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis kebagian penis panjangnya ±20 cm.
Lapisan uretra laki-laki terdiri dari: lapisan mukosa (lapisan paling dalam), dan lapisan sub mukosa.
Uretra pada wanita, terletak dibelakang simfisis pubis berjalan miring sedikit kearah atas, panjangnya±3-4cm.
Lapisan uretra wanita terdiri dari:
Tunika muskularis (sebelah luar), lapisan spongeosa merupakan pleksus dari vena-vena, dan lapisan mukosa(lapisan sebelah dalam).
Muara uretra pada wanita terletak di selah atas vagina (antara klitoris dn vagina) dan uretra disina hanya sebagai saluran eksresi.
C.    Proses Pembentukan Urine
Glomerolus berfungsi sebagai ultra filtrasi, pada simpai bowmen berfungsi untuk menampung hasil filtrasi dari glomerolus.
Pada tubulus ginjal akan terjadi penyerapan kembali dari zat-zat yang sudah disaring pda glomerulus, sisa cairan akan diteruskan ke piala ginjal terus berlanjut ke ureter.
Urin berasal dari darah yang dibawa arteri renalis masuk ke dalam ginjal, darah ini terdiri dari bagian yang padat yaitu sel darah dan bagian plasma darah.
Ada 3 tahap pembentukan urin:
ü  Proses filtrasi
Terjadi di glomerulus, proses ini terjadi karena permukaan afferent lebih besar dari permukaan efferent maka terjadi penyerapan darah. Sedangkan sebagian yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali protein, cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowmen yang terdiri dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat, dan lain-lain.
ü  Proses reabsorpsi
Pada proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa, sodium, klorida, fospat, dan beberapa ion bikarbonat. Prosesnya terjadi secara pasif yang dikenal dengan obligator reabsorpsi terjadi pada tubulus ata. Sedangkan pada tubulus ginjal bagian bawah terjadi kembali penyerapan dari sodium dan ion bikarbonat, bila diperlukan akan diserap kembali ke dalam tubulus bagian bawah, penyerapannya terjafi secara aktif dikenal dengan reabsorpsi fakultatif dan sisanya dialirkan pada papilla renalis.
ü  Proses sekresi
Sisanya penyerapan kembali yang terjadi pada tubulus dan diteruskan ke piala ginjal selanjutnya diteruskan ke


[1] http://www.lintasberita.com/Lifestyle/kesehatan/terapi-urine
[2] http://dalazsyndicate.wordpress.com/2009/12/28
[3] http://catatan-gume.blogspot.com/2010/07
[4] http://delonixmanixcantix.wordpress.com/2011/03/26/terapi-urine

RESUSITASI

Resusitasi Neonatal

Prinsip Resusitasi Neonatal
Prinsip dasar resusitasi pada kelahiran terangkum dalam pernyataan tahun 1897 berikut: Terdapat tiga prinsip utama penatalaksanaan asfiksia neonatorum: pertama, pertahankan panas tubuh; kedua, bebaskan jalan napas dari obstruksi; ketiga, stimulasi respirasi, atau asupan udara ke paru untuk oksigenasi darah. Acuan baru resusitasi neonatal menekankan efektivitas sebagai kunci keberhasilan.
Sebagian besar bayi baru lahir tidak memerlukan bantuan apapun agar dapat bernapas dengan efektif setelah dilahirkan, dan apabila mereka memerlukannya, sebagian besar hanya membutuhkan bantuan minimal. Beberapa memerlukan intubasi dan ventilasi sementara kebutuhan untuk menggunakan obat dan kompresi dada jarang diperlukan. Kurang lebih 10% dari semua neonatus memerlukan bantuan pada waktu dilahirkan, hanya 1% yang memerlukan resusitasi lanjut. Diperkirakan asfiksia perinatal merupakan penyebab seperlima semua kematian neonatal di seluruh dunia; tindakan resusitasi sederhana dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas yang disebabkan asfiksia perinatal.
 Terdapat beberapa faktor resiko antepartum dan intrapartum in utero, seperti hipertensi yang disebabkan kehamilan (PIH), gangguan pertumbuhan intra uterin (IUGR), prematuritas, perdarahan antepartum (APH), ruptur membran prematur (PROM), dan sumbatan mekonium sehingga bayi memerlukan resusitasi. Pada benyak peristiwa, asfiksia terjadi tanpa diduga, jadi penting untuk memiliki personel yang cukup terlatih dalam hal resusitasi neonatal dengan piranti yang memadai pada waktu persalinan sedang berlangsung.

Fisiologi
Ekspansi paru segera pada waktu lahir memerlukan tekanan ventilasi yang lebih tinggi dibandingkan pada tahap lainnya masa bayi. Kegagalan ekspansi ruang alveolar yang adekuat dapat terjadi pada hipoksemia dan asfiksia. Asfiksia menyebabkan hipoksia progresif, hiperkapnia, hipoperfusi dan asidosis.
Konsekuensi dari hipoksia dan asidosis adalah vasokonstriksi paru, pembukaan duktus arteriosus, right-to-left shunting, disfungsi myokard, output jantung kurang, asidosis metabolik dan kerusakan sistem organ. Pada hipoksia janin, setelah beberapa kali napas dangkal pusat respirasi tidak dapat melanjutkan inisiasi pernapasan sehingga pernapasan berhenti. Hal ini disebut apnu primer. Sebagian besar neonatus dengan apnu primer merespon stimulasi saja. Jika hipoksia menetap, bayi mulai terengah. Periode antara engahan terakhir dan cardiac arrest disebut apnu skunder. Secara klinis, tidak mungkin membedakan apnu primer dan sekunder. Karenanya penting untuk menduga bayi apnu mengalami apnu sekunder. Penatalaksanaannya berupa bag and mask ventilation, kompresi dada, intubasi dan obat-obatan.

Preparasi
Untuk mempersiapkan resusitasi diperlukan peralatan yang memadai dan paling tidak satu orang terlatih. Tabel 5.1 mencantumkan peralatan resusitasi neonatal penting yang diperlukan untuk semua persalinan. Kewaspadaan yang menyeluruh serta asepsis yang ketat harus dipertahankan.
Peralatan resusitasi neonatal
·         Permukaan meja resusitasi dengan alas yang cukup keras
·         Sumber kehangatan dan cahaya
·         Jam dengan pencatat waktu
·         Oksigen
·         Kain linen, kantung polietilen atau pembungkus yang hangat
·         Sarung tangan
·         Stetoskop
·         Ekstraktor lendir/suction apparatus, kateter suction (6, 8, 10 Fr)
·         Facemask (ukuran 0 dan 1)
·         Kantung self-inflating dengan penampung (ukuran bayi baru lahir), flow-inflating bag atau T-piece device
·         Laringoskop dengan bilah lurus (ukuran 0 dan 1), bohlam dan baterai cadangan
·         Endotracheal tubes (ukuran 2.0, 2.5, 3.0, 3.5 dan 4 mm ID)
·         Stylet
·         Nasogastric tubes (6, 8 Fr)
·         Disposable syringes (1, 2 dan 10 ml), jarum sekali pakai n(no. 23 dan 24)
·         Kanul intravena, Kateter pembuluh umbilikalis
·         Pita perekat, gunting
·         Obat – larutan NaCl, naloxone, adrenalin (1:10.000)
Jika diperkirakan akan terjadi persalinan prematur (usia kehamilan kurang dari 37 minggu), diperlukan persiapan khusus karena bayi tersebut memiliki paru imatur sehingga lebih sulit untuk berventilasi dan rentan terhadap cedera oleh ventilasi tekanan positif. Bayi prematur juga memiliki pembuluh darah imatur di otak sehingga rentan terhadap perdarahan; kulit yang tipis dan bisang permukaan yang luas, sehingga menyebabkan hilangnya panas dengan cepat; semakin rentan terhadap infeksi; dan peningkatan resiko syok hipovolemik.
Evaluasi
·         Apakah bayi lahir dengan usia kehamilan yang memadai?
·         Apakah cairan amnion bebas dari mekonium dan tanda-tanda infeksi?
·         Apakah bayi bernapas atau mennagis?
·         Apakah tonus otot bayi baik?
Jika jawaban dari semua pertanyaan tersebut adalah “ya,” maka bayi tidak memerlukan resusitasi. Bayi dapat dikeringkan, langsung diletakkan di dada ibunya dan dibungkus dengan kain linen hangat untuk mempertahankan suhu. Harus dilakukan pengawasan terus menerus terhadap pernapasan, aktivitas, dan pewarnaan.
Jika jawaban dari salah satu atau semua pertanyaan di atas adalah “tidak,” maka bayi masuk ke dalam salah satu tindakan berikut:
1.      Langkah awal stabilisasi (berikan kehangatan, posisikan bayi, bebaskan jalan napas, keringkan, stimulasi, reposisi)
2.      Bernapas, yaitu dengan ventilasi
3.      Kompresi dada
4.      Pemberian adrenalin dan/atau ekspansi volume
Diperlukan waktu tiga puluh detik untuk menyelesaikan setiap langkah, dan menentukan apakah langkah selanjutnya diperlukan.
Teknik Resusitasi 
Resusitasi TABC yaitu mempertahankan temperatur (Temperature), jalan napas (Airway), pernapasan (Breathing) dan sirkulasi (Circulation)

Langkah Dasar
Langkah awal resusitasi neonatal sama pentingnya dengan aspek lainnya. Langkah tersebut yaitu mencegah hilangnya panas, keracunan, suctioning, evaluasi dan stimulasi taktil.
Mencegah hilangnya panas
Bayi harus ditempatkan di bawah sumber radiasi panas (radiator pemanas, lampu bohlam, atau pemanas) dengan matras/kain linen yang sudah dihangatkan sebelumnya. Bayi dikeringkan dengan benar, kain linen basah diganti dan kemudian dibungkus dengan kain hangat dan selimut. Setelah dikeringkan, ia diletakkan bersentuhan kulit di dada atau perut ibunya untuk mempertahankan kehangatan. Bayi prematur memerlukan teknik penghangatan tambahan seperti membungkus bayi dengan plastik atau kantung (plastik tahan panas yang bisa digunakan untuk makanan) dengan kepala bayi di luar kantung sementara tubuh terbungkus sepenuhnya. Hal ini efektif mengurangi hilangnya panas selama resusitasi.
Hipertermia juga harus dihindari karena berhubungan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas SSP. Tujuan dari tindakan ini adalah mencapai normotermia dan menghindari hipertermia.

Posisikan bayi
Bayi paling baik diletakkan terlentang atau menyamping dengan kepala pada posisi netral atau sedikit ekstensi, menggunakan sandaran bahu satu inchi, dan jika mungkin, dengan kepala menghadap ke arah sisi.
Suctioning.
 Bayi baru lahir yang sehat dan aktif biasanya tidak memerlukan suctioning pada waktu dilahirkan. Sekresi dapat disingkirkan dari hidung dan mulut menggunakan selang atau handuk. Jika diperlukan suctioning, bersihkan dahulu sekresi dari mulut kemudian hidung dengan bulb syringe atau katetersuction (8 atau 10 Fr). Tekanan suction tidak boleh melebihi 80-100 mm Hg. Suction faringeal yang agresif dapat menyebabkan spasme laringeal dan bradikardia vagal sehingga mengakibatkan keterlambatan pernapasan spontan.
Membersihkan jalan napas dari mekonium. Bayi yang dilahgirkan dengan cairan yang mengandung mekonium beresiko mengalami pneumonia respirasi. Intrapartum suctioning (menghisap dari mulut dan faring bayi sebelum mengeluarkan bahu) tidak mempengaruhi insidens atau beratnya sindrom aspirasi mekonium sehingga tidak lagi dianjurkan.
Jika bayi tidak menunjukkan respirasi atau mengalami depresi pernapasan, hipotonia atau bradikardia, menghisap mekonium dari faring harus dilakukan dibawah pengawasan dan, jika diperlukan, diikuti intubasi singkat dan suction trakea. Penghangatan dapat diberikan oleh radiator pemanas namun pengeringan dan stimulasi  biasanya harus ditunda pada bayi dengan keadaan demikian.
Suction trakea dilakukan dengan memasang suction langsung ke endotracheal tube pada waktu dikeluarkan dari jalan napas. Suction melalui kateter yang dimasukkan ke dalam tube ET tidak dianjurkan. Intubasi dansuctioning dilakukan kembali sampai hanya sedikit mekonium yang ditemukan. Akan tetapi, jika denyut jantung atau respirasi sangat terdepresi, maka perlu dilakukan ventilasi tekanan positif walau ditemukan sedikit mekonium di jalan napas.
Tracheal suctioning bayi aktif dengan cairan dengan bercak mekonium tidak memperbaiki hasil dan dapat menyebabkan komplikasi.

Stimulasi taktil.
 Stimulasi dilakukan dengan mengeringkan dan suctioning biasanya cukup untuk memulai respirasi efektif pada sebagian besar bayi baru lahir. Rangsang taktil tambahan diberikan dengan menggosok telapak kaki atau menggosok punggung, dilakukan sekali atau dua kali, bersama dengan pemberian oksigen aliran bebas. Stimulasi taktil bisa memicu respirasi spontan pada bayi apnu primer namun apabila ia tidak merespon tindakan ini, maka bayi apnu sekunder sehingga dibutuhkan ventilasi tekanan positif.

Evaluasi Periodik dengan Interval 30 Detik
Setelah pemeriksaan awal dan langkah awal, resusitasi lanjut harus dipandu pemeriksaan simultan respirasi, denyut jantung, dan warna. Bayi harus bernapas reguler yang memadai untuk memperbaiki warna dan mempertahankan denyut di atas 100 denyut per menit.
Semua bayi baru lahir harus diperiksa:
1.      Respirasi
2.      Denyut jantung
3.      Warna
Nilai Apgar yang biasa digunakan tidak memiliki manfaat untuk resusitasi neonatal.
Respirasi
Respirasi dinilai dengan mengamati dada dan menggolongkannya ke dalam pernapasan spontan, ektif, apnu atau terengah. Sebagian besar bayi baru lahir dapat bernapas reguler dengan warna yang baik dan denyut diata 100 kali per menit setelah upaya pernapasan awal. Terengah atau apnu mengindikasikan perlunya penggunaan ventilasi.
Denyut jantung
 Denyut jantung dimonitor dengan auskultasi precordium menggunakan stetoskop atau palpasi pulsasi korda umbilikalis yang dihitung selama enam detik kemudian dikalikan sepuluh. Denyut jantung normal lebih dari 100 kali per menit.
Warna
Warna bayi dapat dikelompokkan menjadi sianosis sentral, sianosis perifer, atau merah muda. Neonatus sehat akan tampak merah muda tanpa oksigen. Acrosianosis (warna kebiruan pada kaki atau tangan saja) biasa ditemukan pada awal dan bisa menjadi petunjuk keadaan lain seperti stress dingin. Sianosis sentral biasanya ditemukan di wajah, badan dan mukosa. Pucat (pallor) bisa disebabkan hipotensi, hipovolemia, anemia berat, hipotermia atau asidosis.
Pemberian oksigen
Secara konvensional, resusitasi dilakukan dengan pemberian oksigen 100%. Terdapat kekhawatiran mengenai potensi efek samping pemberian oksigen 100% pada bayi baru lahir. Uji kontrol acak menunjukkan reduksi signifikan mortalitas dan tidak ada tanda kerusakan pada bayi yang diresusitasi di udara ruang dibandingkan dengan oksigen 100%, walaupun masih ada masalah metodologis mengenai penelitian tersebut dan hasilnya harus diinterpretasikan dengan hati-hati.
Resusitasi saat ini bisa dilakukan dengan udara ruangan atau oksigen 100% atau campuran keduanya. Dianjurkan oksigen tambahan harus tersedia apabila 90 detik setelah persalinan keadaan tidak membaik. Oksigen tambahan juga dianjurkan apabila ventilasi tekanan positif mengindikasikan resusitasi. Pada keadaan dimana oksigen tambahan tidak tersedia, ventilasi tekanan positif harus diberikan dengan udara ruang.
Oksigen aliran bebas 5 liter per menit harus diberikan pada bayi yang bernapas namun mengalami sianosis sentral. Hal ini dapat dilakukan dengan pemasangan masker wajah atau sungkup tangan di sekitar selang oksigen di dekat wajah bayi.
Ventilasi
Ventilasi efektif saja merupakan kunci resusitasi semua bayi yang apnu atau bradikardi pada waktu lahir.
Ventilasi tekanan  positif harus dilakukan apabila bayi masih tetap apnu atau terengah, jika denyut jantung < 100 kali per menit setelah 30 detik dilakukannya langkah pertama, atau bayi masing mengalami sianosis sentral walaupun telah diberikan oksigen tambahan.
Napas awal harus mencapai tekanan 30-40 cm H2O kemudian 15-20 cm H2O. Paru prematur bisa rusak oleh inflasi volume besar pada waktu lahir yang bisa menyebabkan displasia bronkopulmoner. Inflasi paru awal pada bayi prematur harus dilakukan dengan tekanan inflasi lebih rendah 20-25 cmH2O, walaupun beberapa bayi tidak merespon tekanan yang lebih tinggi.
Laju optimal ventilasi 40-60 pernapasan per menit dilakukan pada hitungan tekanan satu-dua-tiga-remas. Kantong diremas hanya dengan ujung jari dan bukan dengan seluruh tangan.
Ventilasi yang adekuat  ditandai oleh naik turunnya dada, terdengarnya bunyi napas pada auskultasi, mempertahankan denyut jantung diatas 100 per menit, bernapas spontan dan warna kulit yang merah.
Respon yang tidak adekuat terhadap ventilasi dapat disebabkan oleh:
–      kurang rapatnya sungkup dan wajah
–      obstruksi jalan napas
–      kurangnya tekanan inflasi
–      oksigen yang tidak adekuat (periksa pasokan oksigennya dan penyalurannya)


GIZI

Pengertian status gizi
Status Gizi merupakan ekspresi satu aspek atau lebih dari nutriture seorang individu dalam suatu variabel (Hadi, 2002). Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu (Supariasa, dkk, 2001). Sedangkan menurut Gibson (1990) menyatakan status gizi adalah keadaan tubuh yang merupakan hasil akhir dari keseimbangan antara zat gizi yang masuk ke dalam tubuh dan utilisasinya.
KLASIFIKASI PENYAKIT GIZI SALAH
Penyakit gizi semakin lengkap diketahui dengan kemajuan-kemajuan dibidang ilmu gizi dan tehnik risetnya. Banyak penyakit yang tadinya tidak diketahui sebabnya dan dimasukkan kedalam penyakit disposisi, ini ternyata merupakan penyakit kelainan gizi.
Penyakit gizi salah dapat digolongkan kedalam tiga kelompok yaitu:
1. Penyakit-penyakit bawaan, berdasarkan kesalahan susunan genetik yang menyebabka kelainan dalam sintesa enzim, yang dimulai dari kesalahan genetik, metabolisme (dengan perantara enzim), sehingga menyebabkan terjadinya penyakit-penyakit ini disebut juga dengan “inbornerros of metabolism”. Penyakit gizi akibat kessalahan genetik dapat menyebabkan:
o Enzim tertentu menurun sehingga mengakibatkan penderita akan mengalami intoleransi glukosa, intoleransi fruktosa dan lain-lain.
o Penyakit gangguan metabolisme
o Penyakit degeneratif (penurunan).
Contoh kesalahan genetik dapat menyebabkan produksi insulin menurun sehingga dapat mengakibatkan gangguan metabolisme glukosa rusak (diabetes militus)
2. Penyakit-penyakit berdasarkan ketidak seimbangan antara “intake” dan “requirement” dan zat-zat gizi.
Dilihat dari intake dan requirement ada dua kemungkinan:
1. Penyakit gizi lebih. Contoh: Obesitas yang berkembangan menjadi diabetes militus, jantung koroner, immunity diseases, dan lain-lain.
2. Penyakit gizi kurang ada dua kategori:
·         Penyakit devisiensi gizi yang komplek.
Contoh kwashiorkor (yang disebabkan karena kekurangan kalori dan protein), marasmus (yang disebabkan karena kekurangan kalori), busung lapar (yang disebabkan karena kekurangan protein).
Berdasarkan sebab yang mengakibatkan gizi salah, dibedakan menjadi dua yaitu gizi salah primer dan gizi salah skunder. Pada gizi salah primer,kelainan terletak pada intake dan pada makanan, baik merupakan kelebihan maupun kekurangan. Intake pada gizi salah skunder adalah mencukupi, tetapi terdapat rintangan pada rangkaian pada proses pencernaan, penyerapan, transportasi, dan ubilization daripada zat-zat makanan. Pada gangguan itu terjadi sesuatu keadaan devisiensi dalam efektifitas dari zat-zat makanan. Gangguan lain yang menyebabkan gizi salah skunder ialah keadaan-keadaan yang mempertinggi destruksi atau ekskresi zat-zat makanan, sehingga persediaannya untuk penggunaan dalam tubuh menjadi berkurang dapat pula terjadi devisiensi relatif. Karena kebutuhan (requirement) bertambah, sedangkan persediaan zat-zat makanan seperti biasa. Semua faktor yang menyebabkan gizi salah skunder disebut dengan conditioning factors kemungkinan terjadi conditioning factors yang menimbulkan gizi salah pada seorang penderita suatu penyakit, harus mendapat perhatian dokter sepenuhnya, dengan cara mencegah gizi salah baik primer maupun skunder.
3. Penyakit – penyakit keracunan makanan
 BEBERAPA JENIS PENYAKIT
Banyak masalah-masalah kesehatan yang dapat ditimbulkan akibat tidak adanya keseimbangan gizi yang lebih dikenal sebagai akibat gizi salah. Dalam pembahasan gizi salah yang dapat menimbulkan masalah kesehatan tidaklah semata-mata karena keadaan kurang gizi, namun kelebihan gizipun dapat menimbulkan gangguan pada manusia. Jadi dapat disimpulkan bahwa yang tergolong dalam gizi salah (malnutrisi) ini terdapat dua golongan yaitu kurang gizi (under nutrition) dan kelebihan gizi (over nutrition). Penyakit yang disebabkan oleh kelebihan gizi (over nutrition) sering dijumpai pada masyarakat dinegara-negara maju seperti penyakit jantung koroner, darah tinggi (hipertensi), dan lain-lain. Sedangkan di Negara-negara yang sedang berkembang pada umumnya banyak dijumpai keadaan kurang gizi yang sering disebut dengan Kurang Energi Protein (KEP), devisiensi vitamin A, gangguan akibat kekurangan iodiom (GAKI) dan lain-lain yang nantinya dapat berakibat pada turunnya daya tubuh dan memudahkan untuk terserang berbagai macam penyakit infeksi.
Macam-macam penyakit yang disebakan oleh gizi salah antara lain:
1.      Obesitas
Obesitas didefinisikan sebagai suatu kelebihan lemak dalam tubuh. Secara klasik obesitas telah diidentifikasikan sebagai bobot yang lebih besar dari 20% bobot yang layak bagi pria dan wanita untuk tinggi tertentu.Berdasarkan devinisi obesitas pada wanita adalah kandungan lemak dalam tubuh yang lebih 30%, sedang pada pria batas bawahnya lebih rendah yaitu antara 20-25%.adanya perbedaan ini disebabkan adanya karena pertimbangan lemak per bobot tubuh total pada wanita lebih besar daripada pria.berdsaarkan morfologi jaringan adipose yang dijadikan tumpuan, maka obesitas diidentifikasikan sebagai hipertrofik, yang dicirikan oleh pembesaran ukuran sel lemak atau hiperplastik, hipertrofik yang dicirikan oleh bertambnya sel-sel lemak maupun oleh pembesaran ukuran sel.Biasanya obesitas hipertrofik berkolerasi dengan obesitas pada umur dewasa sedang obesitas sedang hiperplastik hipertrofik berkolerasi dengan munculnya obesitas pada masa kanak-kanak atau remaja. Dalam usaha mencegah dan mengobati timbulnya obesita, diperlukan pengetahuan tentang penyebab penyebab munculnya kelebihan lemak dalam tubuh. Klasifikasi obesitas sebagian bersifat endogen dan dan bersifat eksogen,dengan jelas mengimplikasikan adanya penyebab obesitas internal(metabolic indokrin) dan eksternal (berkaitan dengan diet),sehingga banyak sekali usaha yang dilakukan untuk menilai peranan factor genetic dan lingkungan, terhadap semua jenis obesitas.
Obesitas adalah peningkatan kegiatan liporprotein lipase (LPL) dan peningkatan ukuran sel lemak sepanjang minggu pertama kehidupan.LPL adalah enzim yang menghidrolisis bagian trigli serida dari khilomikro yang beredar dan protein berkepadatan sangat rendah (very low density lipprotein=VLDL) menjadi asam lemak bebas (free fatty acid = FFA) yang kemudian diangkut melintasi membrane sel, diesterkan kembali, dan disimpan sebagai lipid didalam sel.Faktor-faktor lingkungan utama yang dianggap berperan terhadap munculnya obesitas pada manusia yang meliputi makan berlebih sejak dini, makan tanpa batas, factor social ekonomi dan budaya juga memainkan peranan yang nyata, meskipun tidaak secara langsung mempengaruhi munculnya obesitas.
Suatu ciri obesitas yang telah disepakati oleh para peneliti bahwa adanya kecenderungan obesitas akan tetap saja obesitas, atau jika dapat diturunkan bobot tubuhnya dengan plengobatan maka setelah pengobatan selisih bobot tubuhnya akan meningkat kembali.
Pengobatan obesitas dapat dilakukan melalui:
·         Diet dengan cara puasa, khusunya diet rendah kalori, dimana terdapat pada makanan yang kaya serat dan rendah lemak, dimana makanan yang kaya serat akan menyebabkan gastric empeting tinggi (tahan lama dalam lambung), mengikat lemak atau kolesterol, transite time(waktu tinggal diusus) rendah dan mengakibatkan rasa kenyang yang lama.
·         Latihan fisik, dimana sangat efektif untuk menurunkan berat badan, apabila didampingi dengan pembatasan masukan kalori.
·         Pengulahan prilaku dimana diet dapat dilakukan denga mengubah nafsu makan dengan menginduksikan suatu keadaan metabolik yang merangsang anoreksia yang disertai dengan mobilisasi lipid.
·         Pembedahan
·         Farmakologik

 Kekurangan kalori protein
Di Indonesia hampir sepertiga anak pra sekolah menderita KKP atau PCM (protein calori malnutrision) yang disebabkan oleh karena kebiasaan makan yang tidak cukup mengandung kalori dan protein, sehingga akan menyebabkan terjadinya defisiansi protein dan kalori atau kekurangan kombinasi antara keduanya.KKP seringkali dijumpai pada anak usia 6 bulan sampai dengan 5 tahun, dimana pada usia ini tubuh memerluksn zat gizi tinggi, sehingga apabila kebutuhan zat gizi itu tidak tercapai maka tubuh akan menggunakan cadangan zat makanan yang ada, sehingga lama kelamaan cadangan itu akan habis dan akan meenyebabkan kelainan pada jaringn, dan proses selanjutnnya dalam tubuh akan menyebabkan terjadinya perubahan dan akhirnya akan menimbulkan kelainan anatomis.
Jenis KKP atau PCM ini dikenal dalam tiga bentuk yaitu: kwarshiorkor, marasmic kwarshiorkor, dan marasmus.
1. Kwarshiorkor, penyakit ini terjadi akibat tidak cukupnya makanan yang dikonsumsi dan tidak cukupnya protein. Jenis penyakit ini sering dijumpai pada bayi dan anak usia 6 bulan sampai 5 tahun pada keluarga berpenghasilan rendah, dan umumnya kurang sekali pendidikannya.
Tabel 1.1Penggolongan diet penururunan bobot tubuh
No
Jenis diet
Keterangan
Ciri-ciri
I
Nilai gizi seimbang, kalori tanpa batas,kalori tebatas, jenis beragam.
Formula.
Homogen cair diet campuran berkalori rendah (800-1200 kkl).
Homogen cair
Monoton, masukan kalori
Masukan kalori diawasi ketat, menoton
II
Nilai gizi tak berimbang(dapat pula kalori terbatas).
Perbandingan zat gizi diubah
Protein atau karbohidrat tinggi, lemak rendah.
Koefisienan pemanfaatan kalori rendah, penimbunan lemak berkurang, susah mencari bahan makanan penganti
Pebandingan zat gizi diubah.
Karbohidrat rendah, lemak atu protein tinggi.
Ketosis nafsu makan menurun, kehilangan kalori disebabkan menyebabkan ekresi rendah, susah mencar bahan makanan pengganti
Mengutamakan bahan makanan khusus.
Aggur, rumput laut, vitamin B6,dll
Mengandung lipolisis, penurunan keefisienan pemanfaatan kalori menoton
III
Rendah kalori
Serat kasar tinggi, lemak rendah
Laju makan trhambat(perlu lebih sering mengunyah) pencernaa/penyerapan zat gizi terhambat, mnimbulkan rasa kenyang
IV
Puasa
Diet berkalori rendah sekali
Protein/campuran Protein/karbohidrat 300-600 kkal/hari
Lemak tubuh berkurang, protein tubuh berlebih, ketosis, lemak tubuh dan protein berkurang, sangat kategonik
Puasa penuh
Tanda-tanda penyakit ini adalah:
·         Bengkak pada tangan, kaki, atau anggota badan yang lain.
·         Berat badan kurang karena tidak sesuai dengan umur.
·         Wajahnya sembab dan otot-ototnya kendur.
Karena adanya pembekakan maka penurunan berat badan tidak terjadi, tetapi pertambahan tinggi terhambat. Lingkaran kepala mengalami penurunan. Serum albumin selalu rendah bila turun sampai 2,5 mg/ml atau lebih rendah, mulai terjadi pembekakan.
Keadaan yang demikian biasanya disertai dengan tanda-tanda:
·         Rambut tipis dan kulat kusam.
·         Pucat karena anemia
·         Beraknya encer
·         Ulkus/pecah pada berbagai tempat
·         Pembesaran hati
·         Kulit pecah dan mengelupas
·         Gejala kurang vitamin A
2) Marasmik Kwarshiorkor adalah gambaran dua jenis penyakit gangguan gizi yang sangat penting.Dimana ada sejumlah anak yang menunjukkan keadaan mirip dengan marasmus, yang ditandai ddengan adanya odema, menurunnya kadar protein (albumin) dalam darah, kulit mengering dan kusam serta otot menjadi lemah.
3) marasmus disebabkan karena kekurangan kalori yang berlebihan, sehingga menyebabkan zat cadangan makanan (tersimpan) dalam tubuh terpaksa dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan yang sangat diperlukan untuk kelangsungan hidupnya. Penyakit ini banyak ditemukan peda bayi dibawah usia 1 tahun, yang disebabkan karena tidak mendapat ASI atau penggantinya.
Tanda-tanda yang sering dijumpai:
·         Sangat kurus, tinggal tulang terbungkus kulit bahkan sampai berat badan dibawah waktu lahir.
·         Wajahnya seperti orang tua.
·         Kulitnya keriput, pantat kosong, paha kosong, tangan kurus, dan iga nampak jelas.
            Keadaan seperti ini biasanya disertai dengan tanda-tanda:
·         Pucat karena anemia
·         Beraknya encer
·         Dehidrasi, banyak kekurangan cairan tubuh
·         Gejala kekurangan vitamin A dalam mineral.
·         Pencegahan terhadap gangguan gizi sebagai akibat dari KKP atau PCM, yaitu dengan melakukan kegiatan penyuluhan gizi pada masyarakat yang bertujuan untuk menyadarkan, memperbaiki dan merubah tingkah laku/kebiasaan masyarakat untuk menerapkan kebiasan makan yang baik, misalnya dengan cara sebagai berikut:
·         Makanan sehat
·         Penggalakan ASI sebagai makanan bayi terbaik.
·         Makana tambahan bayi diatas 6 bulan
·         Pekanekaragaman menu dengan memperhatikan segi gizi, harga dan
·         Makanan anak pada waktu sakit
·         Makan ibu hamil dan menyusui
·         Hubungan makanan dengan pertumbuhan anak
·         Hygine dan sanitasi